
Filantropi Palsu Para Elite
Oleh : Budi Muhammad Darmawan
Di sebuah negeri yang konon religius, para pencuri tidak lagi takut masuk penjara. Mereka justru takut tidak sempat membangun masjid.
Sebab di negeri itu, dosa tidak lagi dicuci dengan pertobatan, melainkan dengan plang nama.
Seorang pejabat yang sepanjang hidupnya menguras uang rakyat, tiba-tiba menjadi dermawan menjelang akhir masa jabatannya. Ia membangun rumah ibadah, membagikan sembako, menyumbang panti asuhan, dan menggelar santunan anak yatim dengan puluhan kamera mengelilinginya.
Masyarakat pun terharu.
“Masya Allah, beliau orang baik.”
Padahal uang yang disedekahkan mungkin berasal dari jalan yang membuat rakyat semakin susah.
Aneh memang. Jika seseorang mencuri seekor ayam, ia disebut maling. Namun jika seseorang mencuri anggaran miliaran lalu menyumbangkan sebagian kecilnya kepada masyarakat, ia disebut filantropis.
Barangkali inilah mukjizat terbaru politik modern: mengubah rampasan menjadi amal saleh.
Dalam kisah para nabi, Firaun adalah simbol kezaliman. Ia membangun banyak hal besar, tetapi Allah tidak memuji bangunan-bangunannya. Allah justru mencatat kesombongan dan penindasan yang dilakukannya.
Hari ini para Firaun modern tampaknya belajar dari sejarah dengan cara yang berbeda. Mereka sadar rakyat mudah lupa pada kezaliman jika diselingi sedikit kebaikan yang dipublikasikan.
Mereka mengambil seribu dari rakyat, lalu mengembalikan sepuluh sambil mengundang wartawan.
Mereka menutup satu sekolah melalui korupsi anggaran, lalu menyumbang seratus buku dan meminta dibuatkan spanduk ucapan terima kasih.
Mereka membuat ribuan orang kehilangan pekerjaan melalui kebijakan yang salah, lalu membagikan seratus paket sembako sambil tersenyum di depan kamera.
Sedekah menjadi alat pencitraan. Amal menjadi investasi elektoral.
Bahkan kadang-kadang jumlah fotografer lebih banyak daripada jumlah penerima bantuan.
Agama sesungguhnya tidak pernah mengajarkan pencucian dosa model demikian.
Dalam Islam, sedekah adalah ibadah yang lahir dari keikhlasan, bukan strategi pemasaran.
Yang dinilai bukan seberapa besar bantuan diumumkan, tetapi seberapa bersih sumber hartanya.
Sebab Allah tidak pernah kekurangan uang.
Allah tidak membutuhkan gedung megah hasil korupsi.
Allah tidak memerlukan karpet masjid yang dibeli dari keringat rakyat yang dirampas.
Yang Allah kehendaki adalah kejujuran.
Namun manusia sering lebih mudah terpesona oleh bangunan daripada kejujuran.
Mereka melihat kubah emas, tetapi lupa bertanya dari mana emas itu berasal.
Mereka melihat santunan, tetapi tidak bertanya siapa yang sebenarnya membiayainya.
Mereka memuji tangan yang memberi tanpa memeriksa tangan yang sebelumnya mengambil.
Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa ada manusia yang datang membawa banyak amal, tetapi amal itu bangkrut karena kezalimannya kepada orang lain.
Mungkin sebagian elite kita berharap dapat menukar dosa dengan donasi.
Mereka membayangkan surga memiliki loket pembayaran.
Semakin besar sumbangan, semakin dekat pintu masuknya.
Padahal surga bukan proyek pengadaan.
Tidak ada panitia tender di sana.
Tidak ada amplop yang dapat mempercepat proses verifikasi.
Tidak ada relasi politik yang mampu melobi malaikat.
Semua kembali kepada keadilan Allah.
Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati membedakan antara sedekah dan pencitraan, antara amal dan investasi politik.
Tidak semua yang memberi adalah dermawan.
Tidak semua yang tampak saleh adalah orang yang bertobat.
Dan tidak semua bangunan ibadah menjadi bukti kesucian seseorang.
Kadang-kadang sebuah plakat nama yang terpampang di dinding masjid hanyalah batu nisan bagi nurani yang telah lama mati.
Sebab sedekah yang lahir dari ketulusan akan mengangkat derajat manusia.
Sedangkan sedekah yang lahir dari keserakahan hanya menjadi kosmetik bagi dosa yang tidak pernah benar-benar pergi.
Mungkin itulah sebabnya para nabi lebih sering mengajarkan kejujuran daripada pencitraan.
Karena Tuhan jauh lebih sulit ditipu dibandingkan manusia.
