Oleh : Budi Muhammad Darmawan
Di era semua orang bisa menjadi sumber berita, pers tidak lagi berlomba menjadi yang paling cepat, melainkan yang paling dipercaya. Namun pertanyaannya: masihkah kepercayaan bisa dipertahankan ketika algoritma menentukan apa yang dibaca publik?
Hari ini distribusi informasi sepenuhnya dikendalikan platform digital. Apa yang muncul di layar bukan selalu yang paling penting, melainkan yang paling menarik perhatian. Akibatnya logika redaksi perlahan bergeser: dari kepentingan publik menuju kepentingan klik. Jurnalisme tidak hanya diuji oleh hoaks, tetapi oleh sistem yang memberi hadiah pada sensasi.
Di sisi lain, fondasi ekonomi media ikut berubah. Pendapatan iklan yang dulu menopang ruang redaksi kini berpindah ke platform global. Banyak media kehilangan sumber utama pembiayaan. Dalam situasi terdesak, sebagian bertahan lewat afiliasi dengan kekuatan politik atau pemodal berkepentingan. Publik pun mulai bertanya: apakah berita masih lahir dari independensi, atau dari kedekatan?
Persoalan semakin kompleks ketika perusahaan media asing ikut masuk ke ruang informasi domestik. Mereka hadir dengan teknologi, modal, dan jangkauan luas, tetapi tidak selalu membawa kepentingan publik lokal. Kompetisi tidak lagi sekadar antar redaksi nasional, melainkan antara kepentingan global, politik, dan algoritma.
Di tengah tekanan ekonomi dan distribusi digital, tantangan terbesar pers justru kembali ke hal paling mendasar: kepercayaan. Tanpa kepercayaan, media hanyalah saluran konten; dengan kepercayaan, ia menjadi institusi demokrasi.
Peringatan Hari Pers Nasional Senin 9/2/2026 ini semestinya bukan hanya perayaan profesi, tetapi pengingat arah. Pers mungkin kalah cepat dari media sosial, kalah modal dari platform global, bahkan kalah ramai dari percakapan warganet. Namun satu hal yang tak boleh kalah: integritas. Karena pada akhirnya publik tidak membutuhkan informasi yang paling banyak, melainkan yang paling dapat dipertanggungjawabkan.
