Oleh : Budi Darmawan
Di negeri ini, kadang yang paling berbahaya bukan pencuri uang rakyat. Melainkan orang yang membawa pertanyaan. Sebab pertanyaan bisa membuat orang berpikir. Dan orang berpikir sering kali lebih menakutkan daripada demonstrasi.
Dulu, konon, Nabi Musa hanya membawa tongkat. Tidak membawa pasukan. Tidak membawa buzzer. Tidak membawa lembaga survei. Tetapi Firaun gemetar juga.
Mengapa?
Karena penguasa yang terlalu lama duduk di singgasana biasanya mulai takut kepada suara yang sederhana.
Tongkat Musa itu sebenarnya biasa saja. Kayu. Bisa jadi kalau hari ini hidup di negeri kita, tongkat itu sudah kalah tender sebelum berubah jadi mukjizat.
Tetapi masalahnya bukan pada tongkat.
Masalahnya:
Firaun takut rakyat mulai membandingkan mana mukjizat dan mana sulap.
Maka dipanggillah para ahli tafsir kerajaan.
Ada yang menafsir hukum.
Ada yang menafsir anggaran.
Ada yang menafsir niat.
Ada pula yang menafsir wajah orang:
“Kalau mukanya terlalu tenang, pasti menyembunyikan sesuatu.”
Di negeri para penafsir ini, kadang data kalah oleh suasana. Keterangan ahli kalah oleh kebutuhan cerita. Dan praduga tak bersalah sering kalah cepat oleh mikrofon.
Padahal hukum mestinya mencari terang.
Tetapi dalam beberapa musim politik, hukum justru lebih sibuk mencari tokoh utama. Sebab drama tanpa tersangka tidak akan laku tayang.
Lalu rakyat kecil menonton semua konten itu sambil makan gorengan dan kuota internet murah atau wifi gratisan.
Mereka bingung: yang sedang diadili itu manusia, kebijakan, atau kebutuhan zaman untuk menemukan kambing hitam?
Di televisi, orang-orang bicara sangat serius. Alis dikerutkan. Nada dibuat berat. Kalimat dipenuhi istilah.
Semakin rumit bahasa seseorang, kadang semakin rakyat sulit membedakan: itu penjelasan, atau kabut.
Mungkin itulah sebabnya para nabi selalu berbicara sederhana. Karena kebenaran tidak terlalu suka berdandan. Tetapi singgasana selalu membutuhkan dekorasi.
Lihatlah bagaimana Firaun dahulu mengumpulkan ahli sihir seantero negeri. Bukan karena Musa terlalu kuat. Tetapi karena kekuasaan selalu membutuhkan panggung agar tampak benar.
Dan lucunya, yang pertama sujud kepada kebenaran justru para ahli sihir itu sendiri.
Karena orang yang benar-benar ahli biasanya tahu perbedaan antara fakta dan rekayasa.
Sedangkan yang paling keras berteriak sering justru mereka yang tidak sedang mencari kebenaran, melainkan posisi aman di dekat kekuasaan.
Begitulah negeri ini bekerja dari zaman ke zaman.
Nama berubah.
Kursi berubah.
Logo berubah.
Tetapi rasa takut terhadap pikiran merdeka tetap sama.
Kadang seseorang belum diputus bersalah, tetapi wajahnya sudah lebih dulu dijatuhi hukuman oleh opini.
Kadang ruang sidang belum selesai bicara, tetapi pasar sudah menentukan vonis. Dan kita semua diam-diam ikut menjadi penonton sirkus: tertawa, marah, mencaci, tanpa sadar bahwa suatu hari giliran kita sendiri bisa duduk di kursi yang sama.
Maka mungkin masalah terbesar negeri ini bukan kurangnya hukum.
Melainkan terlalu banyak orang yang mencintai kekuasaan lebih daripada kebenaran.
Dan sejarah selalu mengajarkan: setiap zaman memiliki Musa dan Firaunnya sendiri.
Hanya saja, tidak semua orang cukup jujur untuk mengakui sedang berdiri di barisan yang mana.
