Sukabumi, Topik Berita – Senja itu terasa berbeda di halaman SDN 1 Bantargadung, Selasa 10/3/2026. Di tengah kesederhanaan posko pengungsian, ratusan penyintas bencana pergerakan tanah duduk beralaskan tikar, menanti waktu berbuka puasa dengan penuh harap.
Di antara mereka, hadir Bupati Sukabumi Asep Japar. Kehadirannya bukan sekadar kunjungan resmi, melainkan membawa kehangatan bagi warga yang tengah berjuang bangkit dari musibah.
Bupati menyusuri barisan pengungsi, menyapa mereka satu per satu. Ia berhenti untuk berbincang, mendengarkan cerita, bahkan menggendong anak-anak yang tak lepas dari pelukan orang tuanya. Senyum kecil mulai terlihat di wajah-wajah yang sebelumnya diliputi kecemasan.
Di momen itulah, suasana haru tak terhindarkan. Bagi para penyintas, perhatian sederhana itu menjadi penguat di tengah ketidakpastian.
“Yang kami butuhkan bukan hanya bantuan, tapi juga kehadiran. Dan hari ini kami merasakannya,” ujar salah seorang warga dengan mata berkaca-kaca.
Saat adzan magrib berkumandang, kebersamaan terasa begitu hangat. Bupati turut membagikan takjil, duduk bersama warga, dan menikmati hidangan berbuka dalam suasana penuh kekeluargaan.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati menegaskan komitmen pemerintah untuk terus hadir mendampingi masyarakat.
“Kami tidak ingin warga merasa sendiri. Pemerintah akan terus bersama masyarakat, terutama di masa sulit seperti ini,” ucapnya.
Tak hanya membawa empati, pemerintah daerah juga memberikan solusi nyata. Melalui program Dana Tunggu Hunian (DTH), setiap keluarga terdampak menerima bantuan sebesar Rp3 juta selama enam bulan untuk menyewa tempat tinggal sementara.
Bagi warga seperti Parida, bantuan itu bukan sekadar angka, melainkan harapan untuk kembali memiliki ruang aman bersama keluarga.
“Yang kami inginkan sederhana, bisa tinggal dengan tenang, apalagi menjelang Lebaran,” tuturnya lirih.
Bupati pun mengakui, melihat warganya masih berada di pengungsian menjelang hari raya menjadi beban tersendiri. Karena itu, pemerintah terus mempercepat rencana relokasi ke lokasi yang lebih aman.
Namun, ia menegaskan bahwa proses tersebut tidak bisa terburu-buru. Pemerintah harus memastikan tanah yang dipilih benar-benar stabil dan aman untuk jangka panjang.
Malam itu, di bawah langit Bantargadung, kebersamaan menjadi penguat. Di antara tenda-tenda sederhana, terselip harapan baru—bahwa mereka tidak sendiri, dan masa depan yang lebih baik sedang diupayakan.
