Ming. Mar 29th, 2026

Warga Tiara Regency Terjebak Longsor, Cicilan Tetap Ditagih Bank, Developer Lepas Tanggung Jawab

Tak Enak Tidur: Berapa rumah warga di Perumahan Tiara Regency Terancam Longsor dan Pihak Bank, Sementara Developer Cuci Tangan. Foto : Riza Fahlepi

Reporter : Riza Fahlepi

Sukabumi, TOPIC BERITA — Hidup tenang di rumah sendiri adalah impian setiap orang. Namun, bagi warga Perumahan Tiara Regency di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, mimpi itu berubah menjadi mimpi buruk. Longsor kembali menerjang kawasan perumahan mereka untuk kesekian kalinya, memaksa sebagian warga mengungsi demi menyelamatkan nyawa, sementara tekanan datang dari segala arah — mulai dari pihak bank hingga developer yang lepas tangan.

Bencana alam yang terjadi baru-baru ini membuat dinding tanah setinggi belasan meter runtuh, mengancam rumah-rumah warga.

Ketua RW 12 Ketua Septa Rajib Bagja, mengungkapkan, tebing yang rawan longsor itu sudah berulang kali diminta warga untuk diperkuat dengan bronjong. Namun, permintaan itu tak pernah direspons serius oleh pihak developer.

“Longsor ini sudah terjadi beberapa kali, tapi belum ada penyelesaian yang memadai. Kami sudah minta dibangun bronjong, tapi sampai sekarang tidak ada tindakan nyata. Kami merasa ditelantarkan,” ungkap Bagja, Ketua RW setempat.

Ironisnya, di tengah musibah ini, warga justru menghadapi tekanan dari pihak bank. Meski rumah mereka terancam atau bahkan sudah tidak layak huni, bank tetap menagih cicilan seperti biasa.

“Kami sudah mengungsi karena takut longsor susulan. Tapi pihak bank tetap menagih cicilan, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ini benar-benar menambah beban di tengah kondisi yang sudah sulit,” keluh Lendi Nurdiansyah, salah satu warga yang kini harus tinggal sementara di rumah kerabat.

Warga menuntut agar developer bertanggung jawab dan segera mengambil langkah konkret untuk mencegah longsor lanjutan, sekaligus berharap ada kebijakan khusus dari pihak bank terkait kewajiban cicilan mereka di tengah bencana ini.

“Kami tidak ingin terus-menerus hidup dalam bayang-bayang bencana. Harus ada solusi nyata, jangan hanya janji,” tambah Lendi.

Kini, Perumahan Tiara Regency seolah menjadi simbol kegagalan koordinasi antara pengembang perumahan, perbankan, dan pihak-pihak terkait dalam melindungi hak dan keselamatan warga. Warga berharap suara mereka didengar sebelum bencana berikutnya kembali menghantam.

By Redaksi

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *