Setiap zaman ada orangnya, setiap orang ada zamannya.
Ungkapan itu terasa sederhana, tetapi semakin direnungkan, semakin dalam maknanya.
Setiap generasi lahir membawa tantangannya sendiri. Setiap zaman menghadirkan persoalannya sendiri. Dan setiap manusia pada akhirnya akan diuji oleh keadaan zamannya: apakah ia hanya menjadi penonton, ikut hanyut dalam perubahan, atau justru mengambil bagian untuk menentukan arah perubahan.
Kini, Republik Indonesia memasuki usia 81 tahun.
Delapan puluh satu tahun setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, zaman telah berubah begitu jauh. Cara manusia bekerja berubah. Cara berkomunikasi berubah. Cara memperoleh informasi berubah. Bahkan cara masyarakat menyampaikan kritik terhadap kekuasaan pun berubah.
Tetapi ada satu hal yang ternyata tidak pernah berubah: manusia tetap ingin didengar.
Dahulu suara itu mungkin datang dari surat kabar, radio, mimbar, kedai kopi atau coretan di tembok.
Hari ini suara itu bisa muncul dari layar telepon genggam dan dalam hitungan detik menjangkau jutaan manusia.
Medianya berubah.
Suara rakyat tidak.
Dari Perjuangan Kemerdekaan ke Perjuangan Memaknai Kemerdekaan
Pada 1945, para pendiri bangsa menghadapi zaman yang sama sekali berbeda dengan zaman kita.
Kemerdekaan bukan sesuatu yang bisa dibicarakan sambil menikmati kopi dan berselancar di internet.
Kemerdekaan diperjuangkan dengan pengorbanan.
Ada yang mengangkat senjata. Ada yang bergerilya. Ada yang menulis. Ada yang mengorganisasi rakyat. Ada yang menyumbangkan harta. Bahkan ada yang harus kehilangan nyawa.
Mereka hidup pada zamannya.
Dan mereka melakukan sesuatu yang sesuai dengan tuntutan zamannya.
Kini kita hidup di zaman yang berbeda.
Tidak ada tentara penjajah yang datang ke depan rumah membawa senjata untuk menguasai negeri.
Tetapi bukan berarti perjuangan telah selesai.
Bentuk perjuangannya saja yang berubah.
Jika dahulu kemerdekaan diperjuangkan dengan melawan penjajahan fisik, hari ini kemerdekaan harus diperjuangkan melalui pendidikan, kejujuran, keadilan, persatuan, kesejahteraan dan keberanian menjaga akal sehat.
Jika dahulu musuh terlihat di depan mata, hari ini tantangan sering kali tidak kasatmata.
Korupsi. Kemiskinan. Ketimpangan. Disinformasi. Polarisasi. Kebencian. Apatisme. Dan penyalahgunaan kekuasaan.
Itulah wajah tantangan zaman kita.
Dari Sobekan Koran ke Layar Ponsel
Coba bayangkan Indonesia beberapa dekade lalu.
Sebuah koran tiba di pagi hari. Halaman-halamannya dibuka. Berita dibaca perlahan.
Satu berita bisa menjadi bahan percakapan sepanjang hari.
Di kedai kopi, di pasar, di sawah atau pos ronda, masyarakat memperdebatkan apa yang mereka baca.
Ada yang setuju. Ada yang tidak setuju. Ada yang membela pemerintah. Ada yang mengkritik.
Namun perdebatan itu berlangsung dengan ritme zamannya.
Radio kemudian menjadi jendela informasi yang lebih luas.
Televisi hadir dan membawa dunia masuk ke ruang keluarga.
Masyarakat berkumpul menonton berita.
Kemudian teknologi berkembang.
Internet datang. Media sosial lahir.
Dan tiba-tiba setiap orang memiliki “surat kabar” di tangannya sendiri.
Dahulu orang membutuhkan mesin cetak untuk menyebarkan pikiran.
Sekarang cukup sebuah telepon genggam.
Dahulu sebuah berita membutuhkan waktu untuk sampai kepada pembaca.
Sekarang sebuah informasi dapat berkeliling dunia sebelum kita sempat bertanya apakah informasi itu benar.
Di sinilah zaman memberikan tantangan baru.
Dahulu kita kesulitan mendapatkan informasi. Sekarang kita justru kesulitan memilah informasi.
Tembok Dahulu, Media Sosial Sekarang
Ada masa ketika tembok-tembok kota menjadi tempat masyarakat menumpahkan kegelisahan.
Coretan sederhana bisa menjadi simbol perlawanan.
Satu kalimat di dinding bisa menggambarkan keresahan sebuah generasi.
Tembok menjadi media.
Hari ini, dinding itu berpindah ke layar.
Kita mengenalnya sebagai wall, timeline, kolom komentar, unggahan, video pendek dan berbagai platform digital.
Perbedaannya luar biasa.
Coretan di tembok dahulu hanya dibaca oleh orang yang melewatinya.
Tulisan di media sosial hari ini bisa dibaca siapa saja.
Di sinilah kemerdekaan berbicara menemukan ruang yang jauh lebih luas.
Tetapi kebebasan yang luas juga membutuhkan tanggung jawab yang lebih besar.
Sebab tidak semua yang viral adalah kebenaran.
Tidak semua yang banyak dibagikan layak dipercaya.
Dan tidak semua yang berbeda pendapat harus dianggap sebagai musuh.
Kemerdekaan berbicara seharusnya melahirkan keberanian berpikir, bukan kebebasan untuk menyebarkan kebencian.
Pers, Media Sosial dan Suara Masyarakat
Perubahan zaman juga mengubah wajah pers.
Dunia media cetak yang dahulu menjadi sumber utama informasi menghadapi perubahan besar ketika pembaca berpindah ke dunia digital.
Koran harus beradaptasi.
Radio harus beradaptasi.
Televisi harus beradaptasi.
Media online kemudian tumbuh.
Di sisi lain, masyarakat tidak lagi hanya menjadi konsumen berita.
Masyarakat juga menjadi produsen informasi.
Siapa pun bisa menjadi pewarta.
Siapa pun bisa membuat video.
Siapa pun bisa mengomentari kebijakan pemerintah.
Siapa pun bisa mengkritik pejabat.
Inilah salah satu wajah baru demokrasi.
Namun demokrasi digital memiliki paradoks.
Semakin banyak orang bisa berbicara, semakin sulit pula membedakan mana suara yang lahir dari pengetahuan dan mana yang lahir dari provokasi.
Di antara kritik dan penghinaan terdapat garis yang harus dijaga.
Di antara kebebasan dan kebablasan terdapat tanggung jawab.
Di antara fakta dan hoaks terdapat kewajiban untuk memeriksa.
Karena itu, kemerdekaan di era digital bukan hanya kemerdekaan untuk berbicara, tetapi juga kemerdekaan untuk berpikir.
Setiap Generasi Memiliki “Penjajahnya” Sendiri
Barangkali inilah yang sering kita lupakan.
Setiap generasi memiliki bentuk perjuangannya sendiri.
Generasi sebelum kemerdekaan menghadapi kolonialisme.
Generasi 1945 menghadapi perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Generasi berikutnya menghadapi pembangunan dan berbagai persoalan bangsa.
Generasi sekarang menghadapi dunia yang jauh lebih kompleks.
Penjajah hari ini mungkin tidak selalu datang membawa kapal perang.
Ia bisa datang dalam bentuk ketergantungan.
Keserakahan. Korupsi. Manipulasi informasi. Kebodohan. Kemalasan berpikir. Fanatisme.
Bahkan ketidakpedulian.
Karena itu, perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak boleh berhenti pada menjaga batas wilayah.
Kita juga harus menjaga martabat manusia Indonesia.
Apa artinya sebuah bangsa merdeka jika rakyatnya takut menyampaikan kebenaran?
Apa artinya kemajuan jika sebagian masyarakat masih kesulitan mendapatkan pendidikan yang layak?
Apa artinya pembangunan jika lingkungan rusak dan masyarakat kehilangan ruang hidup?
Apa artinya demokrasi jika perbedaan pendapat selalu berakhir dengan permusuhan?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk menyalahkan satu pihak.
Pertanyaan itu adalah cermin bagi kita semua.
81 Tahun Kemudian, Kita Sedang Menjadi Generasi Apa?
Usia 81 tahun seharusnya bukan hanya alasan untuk mengibarkan bendera lebih banyak.
Bukan sekadar lomba panjat pinang.
Bukan sekadar upacara.
Bukan sekadar pidato tentang patriotisme.
Semua itu penting sebagai simbol.
Tetapi kemerdekaan membutuhkan makna yang lebih dalam.
Kita perlu bertanya:
Generasi seperti apa yang sedang kita wariskan kepada Indonesia?
Apakah generasi yang mudah marah tetapi malas membaca?
Mudah percaya tetapi malas memeriksa?
Mudah membagikan tetapi tidak mau bertanggung jawab?
Ataukah generasi yang kritis tetapi tetap santun?
Berani berbeda tetapi tetap menjaga persatuan?
Bebas berbicara tetapi memahami konsekuensi dari setiap kata?
Inilah tantangan sesungguhnya.
Sebab bangsa tidak hanya diwariskan dalam bentuk tanah, bendera dan lagu kebangsaan.
Bangsa juga diwariskan melalui karakter generasinya.
Kemerdekaan Tidak Boleh Berhenti di Upacara
Setiap 17 Agustus kita mengibarkan Merah Putih.
Tetapi setelah upacara selesai, kehidupan kembali berjalan.
Pajak tetap dibayar.
Anak-anak kembali ke sekolah.
Petani kembali ke sawah.
Nelayan kembali ke laut.
Pedagang kembali membuka lapak.
Pekerja kembali mencari nafkah.
Guru kembali mengajar.
Wartawan kembali menulis.
Pejabat kembali menjalankan tugasnya.
Dan masyarakat kembali menggunakan media sosial.
Di situlah sesungguhnya ujian kemerdekaan dimulai.
Apakah kita tetap jujur ketika tidak ada yang melihat?
Apakah pejabat tetap amanah ketika memiliki kekuasaan?
Apakah pengusaha tetap adil ketika mengejar keuntungan?
Apakah wartawan tetap menjaga kebenaran ketika berhadapan dengan kepentingan?
Apakah masyarakat tetap kritis tanpa menjadi pembenci?
Apakah pengguna media sosial tetap memeriksa informasi sebelum membagikannya?
Karena kemerdekaan yang sesungguhnya bukan hanya dirayakan di lapangan upacara. Kemerdekaan diuji dalam kehidupan sehari-hari.
Zaman Berubah, Jangan Sampai Nurani Tertinggal
Delapan puluh satu tahun adalah perjalanan panjang.
Indonesia sudah melewati banyak zaman.
Dari mesin tik menuju komputer.
Dari surat menuju pesan instan.
Dari radio menuju podcast.
Dari koran menuju portal digital.
Dari tembok menuju media sosial.
Dari telepon rumah menuju kecerdasan buatan.
Teknologi terus berubah.
Tetapi jangan sampai manusia justru kehilangan sesuatu yang paling mendasar:
akal sehat dan hati nurani.
Sebab teknologi yang canggih tanpa moral hanya akan membuat kesalahan bergerak lebih cepat.
Informasi yang banyak tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan kebingungan.
Kebebasan tanpa tanggung jawab hanya akan menghasilkan kekacauan.
Dan demokrasi tanpa kedewasaan hanya akan menjadi pertarungan siapa yang paling keras berteriak.
Maka pada usia Republik Indonesia yang ke-81 ini, mungkin kita perlu kembali mengingat satu hal:
Setiap zaman memang ada orangnya. Setiap orang memang ada zamannya.
Para pejuang 1945 telah menyelesaikan tugas zamannya.
Kini giliran kita.
Bukan untuk mengulang perjuangan mereka dengan cara yang sama.
Tetapi untuk menjawab tantangan zaman kita dengan keberanian kita sendiri.
Jika mereka dahulu berjuang agar Indonesia merdeka dari penjajahan, maka tugas kita adalah memastikan kemerdekaan itu memiliki arti dalam kehidupan rakyat.
Jika mereka dahulu menggunakan senjata untuk merebut kemerdekaan, kita hari ini harus menggunakan ilmu, kejujuran, persatuan dan akal sehat untuk menjaganya.
Jika mereka dahulu menulis sejarah dengan darah, jangan sampai kita menulis sejarah generasi kita dengan kebencian.
81 tahun Indonesia merdeka.
Zaman telah berubah.
Media telah berubah.
Cara manusia berbicara telah berubah.
Tetapi harapan terhadap Indonesia yang lebih baik tidak boleh berubah.
Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang bukan seberapa keras kita meneriakkan kata “Merdeka!”
Melainkan seberapa sungguh-sungguh kita membuat kemerdekaan itu dirasakan oleh sesama.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Zaman boleh berganti, media boleh berubah, tetapi suara kebenaran, keadilan dan kemanusiaan jangan pernah kehilangan tempat.
